Kamis, 30 Desember 2010

Pemakaian Huruf Kapital, Pemakaian Tanda Titik, Pemakaian Tanda Titik, Denotasi dan Konotasi, Pengertian Ambigu, Pemakaian Tanda Koma, Pemakaian Kata Kerja Transitif dan Intrasitif.

           
A.     Pemakaian Huruf Kapital
1.      Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Apa maksudnya?
Kita harus belajar.
2.      Huruf kafital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, nak!”
“Siapa yang dating tadi malam?” Tanya ibu.
3.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah                                        Yang Mahakuasa
Qur’an                                     Kristen
Islam                                       Weda
4.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama namagelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti dengan nama orang.
Misalnya:
Haji Agus Salim
Bedakan: ia pergi naik haji
Mahaputra Yamin
Nabi Muhammad
5.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Professor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Gubernur Irian Jaya
6.      Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Halim Perdanakusumah
7.      Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris
8.      Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
bulan September          hari Natal
bulan Maulid               Perang Candu
hari Galungan              tahun Hijriah
hari Jum’at                  tarikh Masehi
hari Lebaran                Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
9.      Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Laut Jawa                                            Gunung Semeru
Asia Tenggara                                      Selat Lombok
Bukit Barisan                                       Lembah Baliem                                  
10.  Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur-unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republic Indonesia                                                    
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomorr 57, Tahun 1972
11.  Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosail
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
12.  Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra
Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata
13.  Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
Dr.                   doktor
M. A.               master of art
S. H.                sarjana hokum
Tn.                   Tuan
14.  Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
“kapan Bapak berangkat” Tanya Budi
Adik bertanya “Itu apa, Bu?”
Surat Saudara sudah saya terima.
15.  Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda sudah kami terima.


B.     Pemakaian Tanda Titik
1.      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di solo.
Biarlah mereka duduk disana.
2.      Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a.       III. Departemen Dalam Negeri
A.     Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
b.      1. Patokan Umum
1.1  Isi Karangan
1.1.1  Gambar Tangan
3.      Tanda titk dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya:
Pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detikyang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam ( 2o menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5.      Tanda titik dipakai diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanda Tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920.Azab dan Sengsara, Waltevreden: Balai Poestaka.
6.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

C.     Huruf Vocal dan Huruf Diftong
a.       Huruf vocal
Huruf yang melambangkan vocal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
Misalnya:
api             padi                 lusa
enak           kena                 sore
itu              simpan             murni
oleh           kota                 radio
ulang          bumi                ibu

b.      Huruf diftong
Didalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang didalamnya dilambangkan dengan  ai, au, dan oi
Misalnya:
ai   ain       syaitan             pandai
au  aula     saudara                        harimau
oi   -           boikot              amboi

D.     Denotasi dan Konotasi
a.       Denotasi
Denotasi adalah makna kata sebenarnya, makna kata secara wajar, secara apa adanya, atau disebut juga makna leksikal.
Misalnya:
·         Pohon mangga yang ditanamnya sudah mulai berbuah
·         Warna daunnya sangat hijau



b.      Konotasi
Makna konotasi adalah makna tambahan, yaitu makna yang diluar makna sebenarnya, atau makna kiasan.
Misalnya:
·         Perilakunya menjadi buah bibir masyarakat.
·         Tidak disangka, bambang menjadi kaki tangan Bandar narkoba

E.     Ambigu
Ambigu itu asalnya dari bahasa Inggris ambiguous  artinya mempunyai lebih dari satu pengertian. Secara sederhana kalimat ambigu adalah kalimat yang dapat diartikan secara berbeda, atau mempunyai dua arti yang mungkin membingungkan.
Misalnya:
·         Mayat itu diloncati kucing hidup.
kalimat tersebut bisa berarti
-          Mayat diloncati oleh kucing hidup.
-          Mayat diloncati kucing kemudian hidup.

F.      Pemakaian Tanda Koma
1.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemikiran atau pembiilangan.
Misalnya:
Saya membeli tas, pena, dan tinta.
2.      Tanda koma dipakai unruk memisahkan suatu kalimat setara yang satu dari kalimatsetara berikutnya yang didahului oleh kata hubung seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan.
Misalnya:
Saya ingin dating, tetapi hari hujan
Didi bukan anak saya, melainkan anak pak kasim.
Saya membeli tas, sedangkan dia baju.
3.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat jika anak kalimat mendahukui induk kalimat.
Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tidak akan dating.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
4.      Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang taerdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi.
Misalnya:
….Oleh karena itu kita harus berhati-hati.
5.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
Kata ibu, “Saya gembira sekali.”
6.      Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B.     Ratulangi, S. E.
Ny. Khadijah, M.A.
7.      Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya:
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti pelatihan paduan suara.
8.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari kata lain yang terdapat didalam kalimat.
Misalnya”
O, begitu?
Hati-hati, ya, nanti jatuh.
9.      Tanda koma dipakai diantara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dantanggal, dan (iv) nama tempat dan wilaya atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
Palembang, 10 Mei 2010
10.  Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
11.  Tanda koma dipakai diantara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
W.J.S. Poerwa darminta, Bahasa Indonesia Untuk Karang-mengarang (Yogyakarta; UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
12.  Tanda koma dipakai dimuka angka persepuluhan atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka
Misalnya:
12,5 m
13.  Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembicaraan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.





G.    Pemakaian Kata  Kerja Transitif dan Intrasitif
a.       Kata kerja transitif
Kata kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek dalam kalimatnya. Berbeda dengan kata kerja intransitif, kata kerja transitif dapat diubah menjadi bentuk pasif. Hal ini tidak berlaku untuk kata kerja intransitif.
Contoh kalimat:
·         Tami sedang mendengar musik klasik.
·         Para caleg mempersiapkan segala sesuatunya.

b.      Kata kerja intransitif
Intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Misalkan dalam bahasa Indonesia kata-kata ini adalah:
·      duduk, tidur dsb.
Pada beberapa bahasa yang memiliki modus pasif, kata kerja transitif bisa dijadikan intransitif dengan mengubah fokus dari agens ke patiens.
Contoh:
·   Saya memukul anjing
o    Anjing dipukul

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM


MAKALAH

ILMU PENDIDIKAN
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM


Disusun oleleh:
Nama           : Sariman
Nim              : 10210132


Dosen Pembimbing
Erika Margareta, S. Pd. I.


FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN FATAH
PALEMBANG
2010


PENDAHULUAN

Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tigkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya di mana individu itu hidup. Untuk memenuhi fungsi pertama dan kedua, tujuan pendidikan harus dirumuskan atas dasar nilai-nilai ideal yang di yakini dapat mengatakan harkat dan martabat manusia. Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah, yang dimaksudkan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Tujuan sebagai sesuatu yang akan dicapai ialah perubahan tingkah laku, sikap dan kepribadian yang bagaimana yang diharapkan setelah subjek didik mengalami pendidikan.














TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
  1. Tujuan hidup dan tujuan pendidikan
Setiap yang ada didalam alam semesta ini adalah diadakan, ada yang mengadakannya. Setia yang diadakan mempunyai tujuan tertentu. Tujuan itu ditetapkan oleh yang mengadakan itu. Manusia ada dibumu ini karena diadakan. Oleh karena itu adanya manusia di bumi ini mangandung tujuan tertentu dan tujuan itu ditetapkan oleh yang mengadakan manusia yaitu Allah. Di dalam Al-Qur’an AllAh bahwa Allah mengadakan manusia adalah untuk menjadi Abdi Allah. Dengan lain perkataan, tujuan hidup manusia menjadi pengabdi Allah.
Mengabdi kepada Allah bukan hanya menjalankan shalat, puasa, zakat dan naik haji, melainkan melaksanakan semua yang dikehendaki Allah, memanfaatkan semua pemberiannya mengejar semua yang di nlainya baik, mematangkan diri dari semua yang di nilainya buruk. Mengabdi kepada Allah bukan hanya melakukan usaha untuk kepentingan akhirat semata-mata, meelainkan melakukan kegiatan-kegiaan untuk keperluan hidup didunia ini menurut tata tertib yang digaiskan Allah.[1]
Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah, yang dimaksudkan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
”Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepadfa Allah. Seperti dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56
  
Artinya;
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”( Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56 )
Menurut Al-Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik. Ini terlalu umum, Marimba berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam ialah berbentuk orang yang berkepribadian muslim. Ini pun terlalu umum Al Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan islam ialah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum, menurut Mursy menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam ialah manusia sempurna ini pun terlalu umum, sulit dioperasikan, maksudnya. Sulit dioperasikan dalam tindakan perencanaan dan pelaksanaan pendidikan secara nyata.[2]
Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tigkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya di mana individu itu hidup.
Suatu rumuan tujuan pendidikan akam dapat apabila sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu perlu ditegaskan lebih dahulu apa fungsi pendidikan itu. Di antara parah ahli didik ada yang berpendapat, bahwa fungsi tujuan pendidikan ada tiga yang semuanya bersifat normatif.
1.      Memberikan arah bagi proses pendidikan. Sebelum kita menyusun kurikulum, perencanaan pendikan dan berbagai aktivitas pendidikan, langkah yang harus dilakukan pertama kali ialah merumuskan tujuan pendidikan.
2.      Memberikan motivasi dalam aktivitas peendidikan karena pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan nilai-nilai yang ingin ddicapai dan di internalisasikan kepada anak atua subjek didik.
3.      Tujuan pendidikan merupakan kriteria atau ukuran dalam  evaluasi pendidikan.

B.     Konsep Tujuan Pendidikan Islam
Untuk memenuhi fungsi pertama dan kedua, tujuan pendidikan harus dirumuskan atas dasar nilai-nilai ideal yang di yakini dapat mengatakan harkat dan martabat manusia. Nilai- nilai ideal yang meenjadi kerangka piker dan bertindak bagi seorang muslim serta sekaligus menjadi pandangan hidup. Nilai-nilai ilahiyah yang bersifat transenden, uuversal dan eksternal. Konsepsi tujuan pendidikan islam yang berdasarkan nilai-nilai tesebut oleeh Abdurrahman An-nahlawi disebut “Ahdafur Robbani” (tujuan yang bersifat ketuhanan).
Sedangkan menurut Omar Muhammad Attoumy Asy-syaebani, tujuan pendidikan Islam memiliki empat ciri pokok.
1.      Sifat yang bercorak agama dan akhlak.
2.      Sifat keseluruhannya yang mencakup segala aspek pribadi pelajar, dan semua aspek perkembangan dalam masyaraka.
3.      Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur-unsur dan cara pelaksanaannya.
4.      Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara individu, masyarakat dan kebudayaan.
Dalam perumusan tujuan, ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan.
Pertama, tujuan sebagai arah dan sebagai sesuatu yang akan dicapai. Yang dimaksud dengan tujuan sebagai arah ialah tujuan yang merupakan arah perkembangan subjek didik. Arah itulah yang akan dicapai sehingga jelas sampai dimana perkembangannya.
Tujuan sebagai sesuatu yang akan dicapai ialah perubahan tingkah laku, sikap dan kepribadian yang bagaimana yang diharapkan setelah subjek didik mengalami pendidikan. Misalnya tanda-tanda orang taat beribadah dan bertawa, tanda-tanda orang yang makrifah kepada Allah, dan juga tnda-tanda orang yang bertangung jawab atas kemakhlukannya. Tanda-tanda orang tersebut sedikit atau banyak dapat dilacak dalam Al-Qur’an sendiri. Misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 sampai 4:
Artinya:
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.
Artinya:
“(Yaitu) mereka yang beriman  kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”.
Artinya:
“Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu  serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (Al-Baqarah: 2-4)

Kedua, tujuan sementara atau perantara dan tujuan akhir. Termasuk dalam tujuan sementara atau perantara ialah tujuan sebagai arah untuk menuju kepada tujuan seperti tersebut di atas sehingga tujuan tersebut bersifat mengantarkan kepada tujuan berikutnya.
Ketiga, tujuan relatif dan tujuan mutlak. Tujuan relatif ialah tujuan pendidikan yang mudah berubah karena terikat dengan tingkat perkembangan subjek didik, kondisi dan situasi sesaat, serta dengan tuntunan dan kebutuhan mendesak.
Tujuan mutlak ialah tujuan pendidikan yang tidak mudah atau bahkan tidak perlu diubah karena sudah dirumuskan berdasrkan nilai-nilai ideal yang mengandung kebenaran dan kebaikan universal.[3]

C.    Pentahapan Tujuan Pendidikan
Berdasarkan catan tersebut, dapat dikemukakan pentahapannya
1)      Tujuan tertinggi/terakhir;
2)      Tujuan umum;
3)      Tujuan khusus.

1.      Tujuan tertinggi/ terakhir
Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum, kaena sesuai denagan konsep ilahiyah yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi dan terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia dan perananya sebagai ciptaan Allah, yaitu:
a.       Menjadi hamba Allah yang paling takwa. Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah.
b.      Mengantarkan subjek didik menjadi khalifah yang mampu memakmurkan membudayakan alam sekitar, dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekkitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima iislam sebagai pedoman hidup.
c.       Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup didunia sampai di akhirat, baik individu maupun masyarakat.
Tujuan ini sesuai denga cita-cita setiap muslim sebagaimana do’a yang paling mencakup selalu ddimohonkan kepada Allah:
“Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina adza banner.” Menurut ajaran islam kesejahteraan dan kebahagiaan itu tidak akan tercapai hanya dengan berdo’a, tetapi harus melalui berbagai usaha (ikhtiar).
Dengan demikian kedua tujuan pendidikan tertinggi tersebut hanya akan dapat dicapai dengan ilmu sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ. (رواه البخارى)
Artinya:
“Siapa orangnya yang meniti jalan untuk mencari ilmu dimudahkan oleh Allah jalan ke surge.”
Kemudian dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 disebutkan:
Artinya:
“……Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”
2.      Tujuan umum
Berbeda dengan tujuan tertingi yang lebih mengutamakan pendekatan filosofis, tujuan umum lebih bersifat empiris dan realistis. Tujuan umum berfunsi sebagai arah yang taraf pencariannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan keperibadian subjek didik. Dengan kemampuan mengaktualisasikan potensi atausumber daya insani berarti dia telah mampu merealisasikan diri(self realisation), yakni menampilkan diri sebagai pribadi yang utuh (pribadi muslim).dengan tujuan ini fungsi tujuan pendidikan sebagai kriteria evaluasi pendidikan lebih mungkin dilaksanakan.
3.      Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi dan terakhir dari tujuan umum pendidikan islam. Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkkinkan untuk diadakan perubahan di mana perlu sesuai dengan tuntunan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan tertinggi, terakhir tujuan umum itu. Pengkhususan tujuantersebut dapat didasarkan padda:
a.       Kultural dan cita-cita suatu bangsa dimana peendidikan itu diselenggarakan
b.      Minat, bakat dan kesanggupan subjek didik
c.       Tuntunan situasi dan kondisi pada kurun waktu tertenntu.[4]
D.  Aspek Tujuan
Aspek adalah suatu bagian dari satu kesatuan, seperti manusia adalah kesatuan dari dua aspek, yaitu aspek raga dan aspek jiwa, aspek nyata/zahir dan aspek batin, aspek fana/berubah-rubah dan aspek baqa/abadi. Kehidupanpun mempunyai dua aspek, yaitu aspek duniawi dan aspek ukhrawi. Bahkan segala sesuatu yang ada inipun mempunyai dua aspek, yaitu aspek wujud dan aspek hakekat.
Setiap tingkat pendidika harus mengandung dua macam aspek itu. Jika pendidikan itu hanya mengutamakan satu aspek saja maka pendidikan yang semacam itu pincang, tidak harmonis dan karenanya bersifat lemah. Setiap tingkat tujuan tidak boleh berhennti pada aspek fana saja melainkan harus dilanjutkan sampai mencapai dan menguasai aspek baqanya. Aspek baqa dari dari manusia adalah jiwanya; aspek baqa dari kehidupan adalah ukhrawi; aspek baqa dari segala sesuatu yang ada ialah hakekat dan hukum-hukum atau sunnahtullah yang mengatur keberlangsungannya.
Terhadap aspek raga, maka pendidikan Islam bertujuan mengembangkan kekuatan tenaga raga sehingga mempunyai daya tahan yang besar terhadap serangan penyakit, maupun memikul beban yang berat dalam rangka memperjuangkan dan melaksanakan kehendak-kehendak Allah. Kekuatan tenga raga ini diperlukan untuk melakukan usaha-usaha guna memanfaatkan segala pemberian Allah yang terdapat di bumi ini. Tanpa kekuatan segala perintah Allah tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya (Q.S. Al-Baqarah: 93). Oleh karena itu untuk terbentuknya pengabdi Allah yang baik, aspek raga ini harus diperkembangkan dan diperbesar kekuatan tenaga saja. Raga yang sehat energy merupakan tujuan antara dari Pendidikan Islam.
Mukmin yang kuat lebih muliah dan lebih dikasihi Allah daripada mukmin yang lemah (al-Hadis) dan buka hanya raga yang kuat energy yang dituju oleh pendidikan islam, melainkan membentuk pula segala sesuatu yang diperlukan untuk mempertahankan dan memperkembangkan lebih lanjut kekuatan raga itu serta mengarahkan penggunaan kekuatan raga menurut garis-garis ketentuan Allah.[5]



















KESIMPULAN
Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tigkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya di mana individu itu hidup.Untuk memenuhi fungsi pertama dan kedua, tujuan pendidikan harus dirumuskan atas dasar nilai-nilai ideal yang di yakini dapat mengatakan harkat dan martabat manusia. Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tigkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya di mana individu itu hidup.
Untuk memenuhi fungsi pertama dan kedua, tujuan pendidikan harus dirumuskan atas dasar nilai-nilai ideal yang di yakini dapat mengatakan harkat dan martabat manusia. Tujuan ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan berlaku umum, kaena sesuai denagan konsep ilahiyah yang mengandung kebenaran mutlak dan universal
Setiap tingkat pendidika harus mengandung dua macam aspek yaitu aspek raga dan aspek jiwa, aspek nyata/zahir dan aspek batin, aspek fana/berubah-rubah dan aspek baqa/abadi. Kehidupanpun mempunyai dua aspek, yaitu aspek duniawi dan aspek ukhrawi. Bahkan segala sesuatu yang ada inipun mempunyai dua aspek, yaitu aspek wujud dan aspek hakekat.









DAFTAR PUSTAKA

Hawi, Akmal, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, IAIN Raden Fatah Press: Palembang,   2006.
Sudiyono, M, Ilmu Pendidikan Islam Jilid I, Rineka Cipta: Jakarta, 2009.


[1] Akmal Hawi, Dasara-Dasar Pendidikaan Islam  (IAIN Raden Fatah Press: Palembang, 2006), hal. 73.
[2] http://aanchoto.com/2010/07/ilmu-pendidikan-islam, (Di akses 22 Desember 2010).
[3] M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid  I (PT. Rineka Cipta: Jakarta, 2009), hal. 31.
[4] M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid  I (PT. Rineka Cipta; Jakarta, 2009), hal. 35.
[5] Akmal Hawi, Dasara-Dasar Pendidikaan Islam  (IAIN Raden Fatah Press: Palembang,  2006),  hal. 80.